Minggu lalu, kami memberikan tips-tips dari Dennis Field mengenai bagaimana memberikan umpan balik yang lebih baik kepada para desainer.

Minggu ini, kami merasa perlu untuk menyampaikan tentang apa yang kamu dapat lakukan untuk tetap tenang dan tetap berkarya ketika kamu menerima umpan balik yang membuatmu ingin melempar meja.

1. Sesi review adalah sesi review

Ketika kamu berada dalam sesi review, jangan mengharapkan orang lain untuk mengatakan betapa bagusnya desainmu. Kenapa? Karena ini adalah sesi review. Orang-orang yang datang untuk melihat hasil karyamu ada di sana bukan untuk merayakan selesainya pekerjaanmu. Mereka ada di sana untuk mengidentifikasi dan mendiskusikan apa yang belum berfungsi. Untuk setiap komentar ‘negatif’, setiap kritik, mungkin tetap ada banyak hal lain sudah berfungsi dengan baik.

Orang-orang yang datang untuk melihat hasil karyamu ada di sana bukan untuk merayakan selesainya pekerjaanmu.

Bukan tidak mungkin sesekali kamu mendapatkan pujian, atau setidaknya pengakuan; hanya jangan terlalu mengharapkannya.

Pro tip: Hal terbaik tentang tidak mengharapkan pujian adalah ketika pujian itu datang, itu akan terasa sangat berarti. Ini seperti mempunyai ekspektasi yang rendah ketika melihat film yang sudah dinanti-nantikan.

2. Umpan balik bukanlah sesuatu yang negatif

Tentu saja umpan balik terasa negatif ketika seseorang mengatakan bahwa desainmu tidak bagus, interaksi yang ada tidak jelas, atau penampilan desainnya kurang faktor “wow”. Tetapi setiap umpan balik yang tepat - bukan sekedar keluhan subjektif - datang dari keinginan yang tulus untuk menciptakan produk sebaik mungkin.

Ada hal-hal yang mungkin tidak terpikir ketika kamu mendesain sesuatu. Kamu juga tidak selalu ada dalam kondisi terbaik ketika mendesain sesuatu. Penggunaan kemampuan kreatif yang repetitif bisa terkadang bisa melelahkan, dan bahkan ketika kamu merasa baik-baik saja, kualitas kerjamu tetap bisa berubah-ubah. Terkadang juga, kritik yang mengakibatkan proses mendesain ulang datang dari pemahaman yang mungkin tidak kamu miliki saat menciptakan produk tersebut awalnya.

Hal yang penting kita ingat ketika mendapatkan umpan balik adalah bagaimana kita menerimanya lebih penting daripada bagaimana umpan balik disampaikan. Semua bergantung pada sikapmu, responmu ketika mendapat umpan balik. Hindari sikap defensive, terimalah dan (bila mungkin) kembangkan masukan yang masuk akal, dan tantang masukan yang tidak masuk akal.

Hal yang penting kita ingat ketika mendapatkan umpan balik adalah bagaimana kita menerimanya lebih penting daripada bagaimana umpan balik disampaikan.

Ini bukan tentang pasrah menerima setiap umpan balik yang diberikan kepadamu -- jika kamu keberatan dengan suatu masukan, dan kamu memiliki alasan yang kuat, nyatakan bahwa kamu tidak setuju. Saat ini terjadi, kamu sedang membagikan keahlianmu, menunjukkan pengetahuan dan kemampuan yang kamu miliki (yang bisa ‘menebus’ ketidaksempurnaan yang kamu lakukan di awal). Ini adalah tentang mencari solusi yang terbaik untuk sebuah permasalahan.

3. Setiap orang adalah seorang desainer

Kamu mungkin pernah mendengar beberapa penulis yang mengeluh tentang pernyataan di atas. “Setiap orang adalah penulis,” kita meratap. Tetapi ini adalah kenyataan yang tidak hanya berlaku untuk para penulis, tetapi juga para desainer: setiap orang yang kamu kenal pernah mencoba mendesain sesuatu.

Tentu saja tidak semua mereka melakukannya dengan Photoshop atau Sketch. Namun mereka mendesain hari-hari mereka; karir mereka, pola makan mereka, kotak surat mereka, bahkan olahraga yang mereka lakukan. Ini semua adalah berbagai bentuk desain - dan kemungkinan besar, mereka cukup baik melakukannya. Jika tidak, mereka mungkin tidak bisa memberikan umpan balik untukmu. Mereka, kurang lebih, cukup baik dalam mendesain, ya - dan mungkin juga kamu lebih baik.

Tetap saja, kamu tidak bisa memastikan setiap karyamu sempurna (lihat no. 2). Dan ketika kamu miss sesuatu, kamu punya orang-orang cerdas yang bisa membantumu melihat apa yang masih kurang. Jangan mengabaikan ide yang mereka bisa tawarkan hanya karena mereka tidak memiliki gelar ‘desainer’.

(Kita juga perlu ingat bahwa banyak dari rekan kerjamu sangat berpengalaman dalam dunia web - dan setiap orang yang bekerja di area ini pasti memiliki pengalaman membuat desain yang buruk. Fakta ini saja cukup membuat opini mereka layak untuk kita dengar).

Jangan mengabaikan ide orang lain hanya karena mereka tidak memiliki gelar ‘desainer’.

4. Ini bukan tentang dirimu

Batasan antara apa yang kamu kerjakan dengan siapa kamu terkadang bisa kabur - khususnya bagi para desainer. Product manager tidak pulang ke rumah dan tetap mengerjakan perkembangan produk (setidaknya, saya harap tidak), sedangkan kebanyakan desainer profesional tidak pernah berhenti mendesain. Mulai dari antrian kasir di Supermarket sampai penempatan tombol di mesin ATM, kebanyakan desainer produk selalu mencari cara untuk menciptakan pengalaman yang lebih baik.

Itulah mengapa terkadang sulit bagi para desainer untuk tidak merasa ‘tertohok’ dan tenggelam dalam keraguan ketika ada orang lain yang mengkritik hasil karya mereka. Itu terasa seperti mereka sedang mengkritik pribadi desainer tersebut.

Menunjukkan bahwa kamu dapat mendengar dan merespon umpan balik dengan baik dan tenang adalah sebuah nilai tambah untukmu.

Tetapi bukan itu yang mereka lakukan. Mereka hanya mengkritik hasil karyamu; itu adalah sebuah hasil kerja, bukan esensi kehidupanmu.

Kamu mungkin merasa sudah menemukan solusi yang tepat saat mengerjakan karya tersebut, tetapi ternyata solusi tersebut tidak berhasil. Bahkan ketika solusi tersebut berhasil, misalnya, orang yang mengkritikmu hanya menyampaikan opininya (meskipun, kita tetap perlu ingat orang tersebut mungkin memang mempunyai pengetahuan yang relevan dengan karyamu yang belum kamu miliki). Menunjukkan bahwa kamu dapat mendegar dan merespon umpan balik dengan baik dan tenang adalah sebuah nilai tambah untukmu.

5. Kreasi adalah komunikasi

Apapun yang kamu ciptakan - UI, wireframe, novel, sonata, kode - kamu melakukannya karena ada keinginan, dorongan, kebutuhan untuk berkomunikasi. Kamu bukan hanya punya ide - kamu ingin membagikannya.

Tapi bagaimana kamu tahu kamu sudah mengkomunikasikannya dengan benar jika kamu tidak mencari dan mendengar masukan dari orang lain? Bagaimanapun, kepada merekalah kamu mengkomunikasikan ide-ide kreasimu.

Seberapapun sulitnya menerima umpan balik negatif, hal tersebut akan membantumu bertumbuh menjadi lebih kreatif. Jika tidak - jika umpan balik tersebut memang merugikan dan merusak serta menahan dirimu - kamu akan belajar untuk mengabaikannya. Kamu akan belajar membedakan masukan yang bermanfaat dan yang tidak.

Bagaimana kamu tahu kamu mengkomunikasikan idemu dengan benar jika kamu tidak mencari dan menerima masukan dari orang lain?

Umpan balik BISA menjadi sebuah ‘hadiah’

Perhatikan di atas bahwa saya tidak pernah menyebut umpan balik sebuah hadiah, karena umpan balik bukanlah hadiah. Tidak ada orang yang memberikan umpan balik tentang karyamu demi dirimu pribadi, untuk membantumu bertumbuh (meskipun pada akhirnya itulah yang seharusnya terjadi). Umpan balik diberikan untuk menciptakan produk yang lebih baik. Mereka tidak bertujuan mengajarimu, mereka sedang berkolaborasi denganmu.

Memahami perbedaan antara umpan balik yang ditujukan kepada pribadimu dengan umpan balik yang ditujukan kepada karyamu akan sangat, sangat bermanfaat dan membantumu untuk dapat menerima serta meresponinya dengan baik.

Gambar: Unsplash
Sumber: Invisionapp