Arianti Silvia adalah seorang digital product designer yang telah berkecimpung di dunia digital product selama kurang lebih 6 tahun. Saat ini ia juga aktif menjadi mentor di gerakan 1000 startup. Yuk…. simak perbincangan dengan Silvia tentang perjalanannya menjadi seorang Digital Product Designer.

Halo Silvia, lagi sibuk apa neh?

Saat ini sedang sibuk bekerja full-time sebagai Senior Designer di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang messaging dan online media, sambil masih mengerjakan beberapa project freelance dan beberapa project pribadi yang harapannya bisa segera dirilis sebelum akhir tahun. Semoga tidak banyak halangan dan distraksi, hahaha.. 😄

Sumber: https://dribbble.com/riantisilvi

Bisa diceritakan bagaimana awal mula terjun ke dunia UI/UX ini?

Saya dulu kuliah di Malang, dan dulu saya adalah seorang front-end developer sambil sesekali nyobain photoshop dan adobe fireworks untuk membuat design website.

Di tahun 2013, sambil mengerjakan skripsi, saya “iseng” melamar pekerjaan sebagai junior front-end di beberapa perusahaan dan startup di Jakarta, Akhirnya ada 1 perusahaan yang meloloskan saya. Itu adalah pekerjaan full-time on-site pertama saya setelah sebelumnya sekedar part-time dan freelancing sebagai designer “seadanya” sambil kuliah, sejak 2011.

Dan saya berangkat ke Jakarta dalam keadaan masih menjadi mahasiswa dan aktif mengerjakan skripsi. Agak nekat sih sebenarnya. Tapi di pekerjaan pertama itulah saya mulai belajar tentang UI/UX lebih dalam.

 

 

Dari Front End beralih menjadi Digital Product Designer?, boleh diceritakan kenapa?

Ada beberapa jenis manusia yang merasakan kepuasan tersendiri saat mengetahui bahwa mereka cukup berguna bagi sekitar, dan dengan latar belakang pendidikan serta pengetahuan yang saya miliki, rasanya beginilah saya bisa berkontribusi.

Kedengarannya agak sok sosial sekali yah hahaha. Tapi memang sebenarnya itu yang menjadi landasan dari apa yang saya dan teman-teman designer kerjakan: solving problem, memastikan kegunaan suatu produk sudah dirancang dan dipikirkan dengan matang untuk menjadi salah satu solusi dari suatu masalah.

Di sisi lain, saya menyukai keindahan/estetika, dan dari kecil aktif menggambar/melukis sampai ikut lomba (walau sekarang sudah lupa cara menggambar hahaha). Di dunia digital product design rasanya sebagian kesukaan saya di masa kecil bisa tersalurkan, walau dengan sedikit “pergeseran”.

Selain proses belajar diatas tadi. Bisa diceritakan hal lain yang membantu kamu berkembang sampai seperti sekarang ini ?

Saya memiliki seorang mentor design, Ia bernama Cennydd Bowles (mantan Design Manager dari Twitter di London).

Biasanya saya akan bertanya mengenai hal-hal terkait dunia design maupun karir, bahkan biasanya saya jadikan tempat curhat jika ada masalah tentang pekerjaan yang tidak bisa saya ceritakan ke siapapun.

Sejauh ini mentor saya cukup objektif, beliau sering menampar saya dengan beberapa kenyataan tentang dunia design maupun karir yang ada di lapangan dan juga mengarahkan dengan bijak jika saya sudah mulai kehilangan arah atau menyerah.

Buat saya, penting untuk memiliki mentor, untuk memberikan arahan dan perspektif baru dan membantu saya untuk tetap menjadi se-humble mungkin.

Kamu juga aktif sebagai mentor untuk gerakan 1000startup. Bisa diceritakan bagaimana pengalamanmu selama menjadi mentor?

Pengalaman jadi mentor di 1000Startup cukup menarik. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya, bicara dan menjawab pertanyaan di depan banyak orang, di sini mentor dihadapkan pada kasus spesifik tiap kelompok peserta.

Pesertanya juga beragam, ada yang sama sekali tidak berpengalaman dan ada yang sudah pernah terjun tapi belum terlalu paham dengan proses.

Sebagai mentor, kami diharapkan dapat mengarahkan peserta agar lebih memahami masalah yang diangkat, solusi yang diberikan, dan juga membantu agar proses mereka lebih terarah dan efisien.

Sumber: https://www.instagram.com/ariantisilvia/

Apa saran kamu untuk teman-teman yang akan memasuki dunia UI/UX ?

Bisa dimulai dengan menggunakan metode ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Jangan lupa untuk banyak membaca, karena the thruth is, UI/UX Design world is not that simple.

Belajar empati ke user, memahami kebutuhan bisnis, memahami guidelines (believe me, this is as important as any other aspects, so you can break it with grace later, and play with your creativity) sehingga tidak mengorbankan hal lain, yang juga berarti empati kepada developer.

Janganlah menjadi designer yang menyusahkan developer, hanya karena tidak mau mempelajari guidelines, sampai mengganggu proses development.

Selalu banyak baca, terapkan, eksplorasi. Dan juga miliki kepekaan yang tinggi.

 

Terima Kasih Silvia sudah berbagi ceritanya 😀

Website http://ariantisilvia.com/
Dribbble
 https://dribbble.com/riantisilvi
Instagram https://www.instagram.com/ariantisilvia/