Kamu bukanlah penggunamu. Tetapi bila kamu bisa menemukan siapa penggunamu dan mempelajari mereka dalam pembuatan desain, kamu akan bisa menghasilkan produk yang lebih baik.

Usability testing dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: studi santai di kafetaria, uji lab secara formal, studi online task-based secara remote dan lainnya. Apapun metode yang kamu pilih, kamu perlu melalui 5 fase berikut:

  • Mempersiapkan produk atau desain untuk diuji
  • Mencari partisipan
  • Menuliskan rencana test
  • Menjadi moderator
  • Mempresentasikan hasil temuanmu

Itu saja. Sebuah usability test bisa dilakukan dengan sangat sederhana seperti menghampiri seorang asing di Starbucks dan meminta mereka menggunakan sebuah aplikasi. Atau bisa juga dilakukan dengan keterlibatan yang lebih tinggi seperti mengadakan studi online dengan meminta partisipan merespon menggunakan mobile phone mereka.

Usability testing bisa diadakan dengan sederhana seperti mendengarkan feedback selama partisipan menggunakan prototype appmu di sebuah kafe.

 

Usability testing adalah metode yang efektif karena kamu bisa mengamati calon pengguna produkmu untuk menemukan apa yang sudah berfungsi dengan baik dan apa yang perlu dikembangkan. Ini bukan tentang meminta partisipan memberitahumu apa yang perlu diubah. Ini adalah tentang mengobservasi mereka selama penggunaan, mendengarkan kebutuhan serta concern mereka, dan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan untuk menciptakan pengalaman yang lebih baik.

Pada awalnya, sebagian besar usability test dalam computer science dilakukan di bidang akademis atau perusahaan besar seperti Bell Labs, Sun, HP, AT&T, Apple, dan Microsoft. Penggunaan usability testing semakin meluas pada pertengahan tahun 1980 dengan mulainya profesi modern di bidang usability, serta buku-buku dan artikel yang mempopulerkan metode tersebut. Dengan meledaknya produk digital, usability test semakin populer karena metode ini dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk mendapat masukan dari pengguna yang sesungguhnya.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam usability testing adalah mengadakannya saat proses desain sudah ada di tahapan akhir. Jika kamu menunggu sampai persis sebelum produkmu dirilis, kamu tidak akan mempunyai waktu atau uang untuk memperbaiki isu apapun - dan kamu akan menyia-nyiakan usaha yang sudah dilakukan untuk product development. Lakukanlah beberapa test skala kecil sepanjang proses pembuatan, bahkan ketika desain masih berbentuk sketsa di kertas.

Menciptakan desain atau produk untuk diuji

Bagaimana kamu memutuskan apa yang perlu diuji? Mulainya dengan menguji apa yang sedang kamu kerjakan.

  • Apakah kamu memiliki pertanyaan mengenai bagaimana desainmu akan bekerja saat digunakan, seperti interaksi atau workflow tertentu? Ini adalah alasan yang tepat untuk melakukan test.
  • Apakah kamu bertanya-tanya apa yang dilihat oleh pengguna pada homepagemu? Atau apa yang akan mereka lakukan pertama kali? Inilah saat yang tepat untuk bertanya.
  • Berencana mendesain ulang sebuah website atau app? Ujilah versi yang ada saat ini untuk memahami apa yang belum bekerja dengan baik sehingga kamu bisa menangani isu yang tepat.
Terkadang sketsa di kertas cukup untukmu memulai testing.

Terkadang sketsa di kertas cukup untukmu memulai testing.

 

Setelah kamu mengetahui apa yang ingin kamu uji, pikirkanlah goal yang ingin kamu capai melalui studi ini. Berusahalah sespesifik mungkin, karena kamu akan menggunakan goal ini untuk menentukan tugas yang perlu dilakukan oleh pengguna. Sebuah goal bisa saja luas, seperti "Bisakah orang menemukan produk yang mereka butuhkan di website ini?" atau goal bisa spesifik, seperti "Apakah orang-orang memperhatikan link yang ada untuk mempelajari lebih lanjut mengenai produk tertentu di halaman ini?"

Kamu juga perlu menentukan cara menampilkan desainmu untuk studi tersebut. Jika kamu mempelajari sebuah app atau website yang sedang dikerjakan, kamu bisa menggunakan app atau website tersebut. Untuk ide desain awal, kamu bisa menggunakan prototype yang dibuat di kertas dengan pensil atau dengan software lain seperti PowerPoint.

Jika kamu sudah ada di tahap selanjutnya dalam ide dan pembuatan produk, dan kamu ingin menampilkan desain yang lebih interaktif, kamu bisa membuat prototype interaktif menggunakan Balsamiq atau Axure. Apapun yang kamu ciptakan, pastikan partisipanmu dapat mengerjakan task yang ingin kamu uji.

Temukan partisipanmu

Dalam menentukan partisipan, pertimbangkan siapa yang akan menggunakan produkmu dan bagaimana kamu bisa menemukan mereka.

Screeners seperti ini membantumu mendapatkan partisipan yang tepat.

Screeners seperti ini membantumu mendapatkan partisipan yang tepat.

 

Jika kamu punya app yang menargetkan pendaki, contohnya, kamu bisa post request di Facebook page para pendaki. Jika websitemu menargetkan guru Bahasa Inggris SMA, kamu bisa mengirimkan request untuk meminta kesediaan para guru melalui newsletter atau website pendidikan. Jika kamu mempunyai uang lebih, bekerja samalah dengan perusahaan rekrutmen untuk menemukan calon partisipan untukmu (jangan lupa menyediakan screener questions untuk menemukan orang-orang yang tepat). Jika kamu tidak mempunyai budget untuk itu, hubungi teman-teman serta keluargamu untuk mencari tahu apakah mereka mengenal orang-orang yang sesuai dengan kriteria yang kamu butuhkan.

Bersiap sedialah. Merekrut partisipan seringkali menjadi fase yang memakan waktu lebih banyak dalam studi usability, dan seharusnya menjadi salah satu hal yang kamu kerjakan sejak awal. Dengan demikian, sembari kamu mengerjakan hal yang lain - seperti menuliskan task dan pertanyaan-pertanyaanmu - proses rekrutmen akan berjalan bersamaan.

Kamu mungkin masih bingung dengan jumlah partisipan yang kamu butuhkan. Seorang ahli usability, Jakob Nielsen, berkata dengan 5 partisipan kamu bisa menangkap 85% isu usability dalam sebuah desain - dan kamu bisa mendapatkan 15% sisanya dengan 15 pengguna. Idealnya, kamu perlu melakukan test dengan 5 pengguna, lakukan pengembangkan, adakan test lagi dengan 5 orang berbeda, lakukan pengembangan, dan lakukan test lagi dengan 5 orang. (Sebagai panduan umum, rekrutlah satu orang lebih banyak dari jumlah yang kamu butuhkan, karena biasanya ada satu orang yang akan tidak hadir pada hari H.)

Siapapun yang mengikuti usability testingmu, kamu perlu menawarkan sejenis insentif, seperti uang tunai atau gift card, atas kesediaan mereka meluangkan waktu. Ratenya berbeda di berbagai negara. Umumnya, kamu perlu memberikan insentif lebih banyak jika test dilakukan secara tatap muka (karena partisipan harus menempuh perjalanan untuk bertemu denganmu), dan lebih sedikit jika test dilakukan secara remote, melalui layanan seperti WebEx. Partisipan yang sulit ditemui - seperti dokter atau kaum profesional lain yang sibuk - akan membutuhkan kompensasi yang lebih besar.

Buatlah perencanaan test

Agar kamu tetap terorganisir, kamu perlu perencanaan test, meskipun itu hanya studi kasual. Perencanaan akan memudahkanmu berkomunikasi dengan pemangku jabatan dan anggota tim desain yang mungkin ingin memberikan masukan untuk usability test dan, tentunya, membantumu untuk tetap on track pada saat pelaksanaan test tersebut. Di sinilah kamu bisa membuat list mengenai setiap detil testmu. Berikut ini adalah beberapa bagian untuk perencanaan testmu:

  • Study goals: Goal ini perlu disetujui oleh setiap pemangku jabatan, dan ini akan membantumu menentukan task yang akan diberikan.
  • Informasi sesi: Ini adalah list waktu setiap sesi serta partisipan yang terlibat. Kamu juga bisa memasukkan informasi mengenai bagaimana pemangku jawaban dan desainer dapat masuk/log in ke dalam sesi untuk mengobservasi. Contohnya, kamu bisa berbagi - dan merekam - sesi-sesi yang ada menggunakan WebEx atau gotomeeting.
  • Informasi mengenai latar belakang test dan non-disclosure agreement: Tulislah sebuah script untuk menjelaskan tujuan dari studi ini kepada partisipan; sampaikan bahwa kamu sedang menguji software, bukan menguji mereka; informasikan kepada mereka jika kamu akan merekam sesi tersebut; dan pastikan mereka mengerti bahwa apapun yang mereka lihat saat test berlangsung tidak boleh mereka ceritakan/bagikan kepada siapapun (cara terbaik adalah meminta setiap partisipan menandatangani non-disclosure agreement). Mintalah mereka untuk berpikir sambil bersuara selama studi sehingga kamu bisa memahami pemikiran mereka. Lalu, mintalah mereka untuk melakukan tasks yang ingin kamu uji. Contohnya, untuk mempelajari sebaik apa seorang partisipan dapat menavigasi sebuah produk, kamu bisa meminta mereka mulai dari homepage dan berkata, "Kamu ada di sini untuk membeli alarm kebakaran. Apa yang perlu kamu lakukan untuk menyelesaikan task tersebut?" Juga persiapkan follow-up questions yang ingin kamu tanyakan, seperti "Seberapa mudah atau sulit task tersebut?" dan sediakan sebuah skala rating.
  • Kesimpulan: Di akhir studi/test, kamu bisa bertanya pada para pengamat jika mereka punya pertanyaan tambahan bagi partisipan, dan tanyakan kepada partisipan jika ada di antara mereka yang ingin menyampaikan sesuatu.

Memulai dengan sebuah template bisa membantumu merencanakan test.

Jadilah seorang moderator

Adalah tugasmu sebagai seorang moderator - orang yang memimpin sesi-sesi usability test - untuk memastikan setiap sesi berjalan dengan lancar dan tim mendapat informasi yang mereka butuhkan untuk mengembangkan desain mereka. Kamu perlu membuat partisipan merasa nyaman sambil terus memastikan bahwa mereka mengerjakan setiap task, serta meminimalisir atau me-manage kesulitan teknis atau isu lain yang mungkin muncul. Tetaplah bersikap netral. Kamu bisa melakukannya!

Perencanaan test adalah panduanmu. Melakukan sebuat pilot study - atau test run - sehari sebelum sesi sesungguhnya juga dapat membantu performamu sebagai moderator karena kamu bisa berlatih mengerjakan setiap aspek dari test tersebut.

Amati dan dengarkan

Selama test berlangsung, ingatlah bahwa tugasmu adalah untuk diam dan mendengarkan; biarkan partisipan yang berbicara. Dengan cara itulah kamu dan timmu bisa belajar sesuatu. Bersiaplah untuk bertanya "kenapa?" atau "tolong jelaskan pada saya lebih lanjut" agar partisipan bisa menguraikan pemikiran mereka dengan lebih jelas. Jagalah pertanyaan dan bahasa tubuhmu agar tetap terlihat netral, dan hindari 'menggiring' partisipan untuk memberikan respon tertentu.

Selama sesi berlangsung, seseorang perlu mencatat. Idealnya, kamu memiliki seorang note-taker sehingga kamu bisa fokus memimpin sesi sebagai moderator. Jika tidak, kamulah yang perlu melakukan kedua hal ini bersamaan. Seperti apapun kondisinya, siapkan sheet untuk mencatat di sebuah spreadsheet tool (saya menggunakan Excel) untuk menyederhanakan prosesnya saat pelaksanaan test dan saat menganalisa data. Salah satu cara untuk lebih terorganisir adalah dengan menuliskan nama setiap partisipan pada bagian kolom dan menuliskan pertanyaan/task pada bagian baris (row). Pelajari lebih lagi tentang menulis observasi research yang efektif.

Selain mencatat, rencanakan untuk merekam sesi menggunakan WebEx atau Camtasia sebagai backup kalau-kalau kamu melewatkan sesuatu. Kamu bisa menemukan list tools yang bermanfaat di sini.

Pastikan kamu siap menghadapi hal yang tidak sesuai rencana (dan biasanya selalu ada sesuatu yang terjadi). Pertimbangkan hal-hal berikut:

  • Beberapa partisipan akan terlambat beberapa menit. Jika ini terjadi, apakah mereka masih diijinkan berpartisipasi, apakah task atau pertanyaan dengan prioritas paling rendah yang akan kamu hilangkan?
  • Prototype software bisa saja berhenti bekerja atau terkena bug. Cobalah untuk selalu punya backup - seperti screenshots di kertas - jika memang hal ini mungkin dilakukan.
  • Pada remote study, beberapa partisipan mungkin kesulitan menggunakan video conferencing tool. Kamu perlu tahu sejak awal bagaimana screen akan terlihat bagi partisipan, apa yang perlu mereka lakukan, dan kesalahan yang mungkin terjadi supaya kamu bisa memandu mereka sepanjang experience tersebut.

Remote testing

Jika kamu melakukan remote study tanpa moderator, remote tool – seperto UserZoom atau Loop11 – akan berperan sebagai moderator. Karena adanya jarak, kamu perlu menuliskan introduction untuk membangun nuansa atau suasana dari test ini dan menyediakan informasi mengenai latar belakang studi; mempresentasikan setiap task dengan efektif; dan memastikan bahwa pengguna tetap on track. Sangat penting untuk menguji remote studies sebanyak mungkin sebelum mengadakan studi sesungguhnya untuk mengantisipasi kesulitan teknis.

Mempresentasikan hasil temuanmu

Selama pelaksanaan sesi, kamu bisa mencatat poin-poin penting yang kamu lihat, khususnya yang berhubungan dengan goal dari studi ini. Cobalah berbicara dengan para pengamat setelah setiap sesi berakhir atau di akhir hari untuk mengetahui pembelajaran yang mereka dapat. Setelah semua sesi selesai, lihatlah lagi catatanmu untuk mencari jawaban atas goal yang sudah ditetapkan, dan hitung berapa banyak partisipan yang melakukan tindakan tertentu atau membuat jenis komen tertentu. Tentukan cara terbaik mengkomunikasikan informasi ini untuk membantu para pemangku jabatan.

Callouts bermanfaat untuk menarik perhatian pemangku jabatan terhadap quotes atau poin penting dari pengguna saat presentasi.

Callouts bermanfaat untuk menarik perhatian pemangku jabatan terhadap quotes atau poin penting dari pengguna saat presentasi.

 

Pertimbangkan metode-metode di bawah ini dalam mendokumentasikan hasil temuanmu:

  • Jika audiensmu adalah tim yang perlu bertindak cepat terhadap informasi yang mereka terima, menuliskan temuanmu dalam bentuk bullet points melalui email bisa menjadi media yang tepat. Jika kamu bisa menggabungkan email tersebut dengan pembicaraan cepat dengan para anggota tim, maka tim tersebut bisa memproses informasi yang ada dengan lebih baik.
  • PowerPoint presentation bisa menjadi cara yang baik untuk mendokumentasikan hasil temuanmu, termasuk screenshots dengan callouts, dan grafik yang bisa membantu menggambarkan poin-poin temuanmu. Kamu bahkan bisa menyertakan link video clips yang mengilustrasikan poin yang ingin kamu sampaikan.
  • Jika kamu berada dalam lingkungan yang lebih akademis, atau rekanmu perlu membaca laporan, tulislah sebuah dokumen laporan formal. Jangan lupa sertakan gambar yang bisa mengilustrasikan temuan-temuanmu.

Bagaimana selanjutnya?

Resources berikut bisa menjadi referensi yang sangat baik tentang usability testing:

  • Don’t Make Me Think dan Rocket Surgery Made Easy oleh Steve Krug
  • Observing the User Experience oleh Mike Kuniavsky
  • Handbook of Usability Testing oleh Jeffrey Rubin dan Dana Chisnell

Saat kamu sudah menguasai dasar-dasar usability testing, kamu bisa memperluas pengalaman/keahlianmu dengan mencoba jenis testinlain seperti:

  • Remote moderated testing (sama seperti lab testing, hanya saja partisipanmu berada di lokasi lain, dan kamu berkomunikasi menggunakan WebEx atau tool sejenisnya dan telepon)
  • Remote unmoderated testing (usability testing dengan ratusan orang melalui tool seperti  UserZoom atau Loop11)
  • A/B testing (menguji dua desain untuk menentukan desain mana yang lebih baik)
  • Competitive testing (mengadu desainmu dengan desain kompetitormu)
  • Benchmark studies (menguji progress situs atau appmu dari waktu ke waktu)

Usability testing adalah bagian penting dalam proses desain yang berorientasi kepada pengguna karena dengannya kamu bisa melihat apa yang berhasil dan apa yang tidak dalam desainmu. Tantang dirimu untuk mendapat temuan yang lebih banyak dari sesi-sesimu dengan menggunakan setidaknya satu ide baru dari artikel ini pada testing berikutnya.

Sumber: UXMastery
Gambar: Unsplash