Hal-hal yang sebaiknya dilakukan (atau tidak dilakukan) saat wawancara - baik sebagai pewawancara maupun yang diwawancara.

How to interview for a design job

Menghadapi wawancara untuk sebuah pekerjaan biasanya memicu stress dan menegangkan. Kamu sadar bahwa kamu sedang diuji. Bagaimanapun persiapanmu, hasil akhirnya tetap sulit diprediksi. Mereka bisa menanyakan hal yang tidak kamu duga, kamu tidak tahu seperti apa orang yang mewawancaramu atau bagaimana mood mereka saat itu. Proses ini adalah sebuah transaksi profesional serta uji kepribadian.

Saya pernah melewati wawancara yang buruk dan baik. Semakin banyak orang yang saya wawancara, semakin baik performa saya ketika diwawancara. Saya ingin berbagi tiga cerita pribadi dari kedua sisi meja, sebagai kandidat dan sebagai pewawancara. Saya pernah beberapa kali mengalami kegagalan yang luar biasa namun saya tetap menemukan hal-hal yang bisa saya pelajari dan saya harap informasi ini bisa bermaanfaat untukmu atau setidaknya bisa menghibur.

Untuk menghargai privasi orang yang terlibat, saya tidak akan menyebutkan nama atau memberikan konteks lebih dari yang diperlukan untuk mengilustrasikan situasi yang berbeda-beda.

Berbicara dengan 'bahasa yang sama'

Hari masih pagi dan jalanan di London Utara masih sepi. Beberapa hari lalu saya telah mencetak peta dengan alamat lengkap studio tempat saya akan diwawancara namun area tersebut ternyata memang kurang jelas dan alamat yang saya terima adalah gedung (mirip) gudang tanpa pintu masuk yang jelas. Saya baru saja membeli flip phone murah beberapa minggu sebelumnya di awal ketibaan saya di UK, jadi daripada terlambat, saya memutuskan untuk menelpon orang yang akan mewawancara saya untuk memberi tahu bahwa saya tidak bisa menemukan pintu masuknya.

Dari situlah semua bermula...

Saat itu tahun 2008 dan saya baru saja pindah ke London. Meskipun saya berhasil bertahan hidup dan menemukan tempat tinggal (sebuah kamar kecil di Morden), kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris saya belum terlalu baik dan pastinya belum cukup untuk berkomunikasi via telepon dengan seorang asing. Beberapa hal yang saya pelajari dengan cara yang sulit dan inilah salah satu pengalamannya.

How to interview for a design job

Saat seorang laki-laki mengangkat telepon saya langsung panik, saya jelaskan bahwa saya tidak bisa menemukan pintu masuknya dan ia segera menjelaskan lokasinya. Selama lawan bicara saya terus mengulang nama yang sama berkali-kali, otak saya justru sibuk mencoba memahami aksennya...apa yang sedang ia katakan? Itulah awal yang menantang sebelum memulai wawancara yang tentunya tidak berlangsung dengan baik.

Ini adalah cerita tentang sebuah wawancara yang gagal saya lewati pada level komunikasi paling dasar. Wawancaranya singkat dan mereka tidak pernah menelpon saya lagi.

Meniru karya orang lain

Beberapa saat yang lalu saya mendapat giliran mewawancara seorang desainer di tempat saya bekerja. Satu detil yang terlewat oleh semua pewawancara sebelumnya adalah bahwa projek utama di portfolio itu bukanlah hasil pekerjaan langsung orang tersebut, namun ia berusaha membuatnya terlihat seperti hasil pekerjaannya sendiri. Karya ini adalah salah satu yang paling bagus dan kebetulan saya mengenal desainer sesungguhnya, jadi saya putuskan untuk mencari tahu lebih jauh.

"Projek utama di portfolio itu bukanlah hasil pekerjaan langsung orang tersebut, namun ia berusaha membuatnya terlihat seperti pekerjaannya sendiri."

Saya menghubungi teman saya yang adalah desainer sesungguhnya dari karya tersebut dan menanyakan apakah memang ia memiliki hubungan kerja dengan orang yang sedang saya wawancara ini. Sayangnya, saya mendapat informasi bahwa karya tersebut bukanlah hasil karya orang yang saya wawancarai dan keterlibatannya hanya sebuah kekeliruan saja.

Untuk menciptakan pembicaraan yang sehat tentang karya tersebut, saya memutuskan untuk terbuka dengan kandidat tersebut saat wawancara langsung dan membahas isu tersebut. Saya sebutkan hubungan saya dengan desainer kenalan saya dan saya tanyakan pada kandidat apakah memang benar itu adalah hasil karyanya dan apa perannya dalam projek tersebut. Jawabannya tidak sesuai dengan fakta yang saya sudah terima dan itu dapat dirasakan oleh kami berdua.

Tiba-tiba wawancara tersebut menjadi canggung.

Setelah momen tidak menyenangkan itu, wawancara berlanjut dan kami berbicara tentang banyak hal lainnya. Pada akhirnya, karya tersebut bukanlah alasan mengapa kandidat tersebut tidak berlanjut ke tahap selanjutnya. Namun, kejadian itu merupakan merusak kepercayaan saya dan menjadi salah satu landasan dalam mempertimbangkan kandidat tersebut sebagai calon rekan kerja.

How to interview for a design job

Tidak menjelaskan peranmu dalam sebuah projek dengan jujur atau menampilkan karya orang lain sebagai karyamu sendiri adalah suatu hal yang salah, menyesatkan dan tidak menolong siapapun - tidak bagi kandidat ataupun pewawancara. Ketika projek besar dikerjakan oleh sebuah agency, wajar saja bila projek tersebut muncul di portfolio beberapa desainer (ingat nike.com?). Namun, menjelaskan peran atau tanggung jawabmu dalam projek itu sangatlah penting.

Dalam cerita ini, kandidat tersebut gagal untuk menjelaskan hasil karya tersebut dengan jujur dan meskipun itu bukanlah deal-breaker utamanya, kejadian tersebut tidak membantu memberikan gambaran yang baik tentang dirinya.

Menjelek-jelekkan tempat kerja

Kami paham. Alasan sebagian besar orang mencari pekerjaan baru adalah karena mereka tidak bahagia di tempat kerja mereka sekarang. Itu alasan yang wajar dan sudah merupakan penjelasan yang cukup ketika kamu sedang mencari kesempatan yang baru.

Saya pernah mengalami ini sebagai pewawancara dan kandidat. Bertahun-tahun yang lalu, saya melakukan wawancara di sebuah agency luar biasa di NYC dan ketika bertemu dengan CEO-nya, ia mengeluarkan komentar yang  kurang pantas untuk mencoba mencari keburukan perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya.

Saya cukup terkejut dan kesulitan untuk merasa nyaman dalam pembicaraan tersebut. Saya terus ditanya mengenai hal tersebut sehingga akhirnya saya memutuskan mengambil sikap dan mulai menyebutkan hal-hal baik tentang perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. Saya memang mencari kesempatan untuk pindah tetapi tidak dengan cara menjelekkan tempat saya bekerja. Saya yakin keputusan yang saya ambil tepat.

"Ketika bertemu dengan CEO-nya, ia mengeluarkan komentar yang kurang pantas untuk mencoba menggali keburukan tempat kerja saya."

Di sisi yang lain, saya juga pernah mewawancara banyak orang yang tidak bahagia. Dalam sebuah kasus spesifik, seorang desainer sangat keterlaluan ketika membicarakan pengalamannya di perusahaan tempat ia bekerja saat itu dan bersikap sedikit berlebihan. Saya tidak menyadarinya di awal namun ketika semua orang di tim berkesempatan untuk berbicara dengannya dan berbagi opini, kepahitan kandidat tersebut tentang posisinya saat ini dan bagaimana ia berbagi terlalu banyak insight menjadi sebuah concern. Jika ia melakukannya dengan perusahaan sekarang, sangat mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama dengan kami.

Di cerita ini, kandidat gagal untuk tampil secara profesional dan membaca situasi dengan tepat. Keluhan meninggalkan kesan yang negatif bagi orang lain dan hal ini menjadi jelas ketika setiap orang yang mewawancarai kandidat tersebut mencoba menyatukan pendapat dan pemikiran mereka.

Kemampuan berkomunikasi, sikap profesional dan bisa dipercaya adalah beberapa karakter penting yang perlu dimiliki setiap orang ketika diwawancara. Namun, ini perlu terjadi pada dua belah pihak dan terkadang bahkan kandidat terbaik bisa bertemu dengan pewawancara yang tidak baik. Saya mungkin bisa berbagi lebih banyak cerita mengenai hal ini nantinya, namun untuk saat ini, gunakanlah "contekan" ini sebagai panduan untuk wawancara selanjutnya, sebagai kandidat ataupun pewawancara.

How to interview for a design job

Hal yang dapat kamu lakukan

  1. Kerjakan PR-mu
    Lakukan riset mengenai orang yang akan berbicara denganmu. Sekalipun ini terlihat obvious, kamu akan terkejut dengan banyaknya orang yang datang wawancara tanpa melakukannya terlebih dahulu.
  2. Jadilah diri terbaikmu
    Jangan berusaha menjadi orang lain atau menggunakan karya orang lain di portfoliomu.
  3. Bicarakan tentang apa yang kamu suka lakukan dan keahlianmu 
  4. Jadilah profesional
    Berhati-hatilah dengan kata-kata atau penggunaan bahasamu.
  5. Jangan menjelekkan perusahaan tempat kamu pernah atau sedang bekerja
    Kamu ingin pindah dari pekerjaanmu saat ini dan it's okay, tetapi jangan buat dirimu terlihat tidak dapat dipercaya. Pewawancaramu bisa berpikir bahwa kamu akan melakukan hal yang sama di masa depan.
  6. Bacalah situasi untuk menentukan bagaimana kamu perlu bersikap
    Beradaptasilah dengan situasi di ruangan tersebut tanpa berhenti menjadi dirimu sendiri.

Sumber: Creativebloq
Penulis: Claudio Guglieri
Foto: Unsplash