Saat ini Bady memimpin salah satu team design di DBS Singapore. Dalam sesi interview ini Bady akan berbagi seputar pengalamannya bekerja sebagai designer di negara tetangga (Singapura), bagaimana juga ceritanya sampai dia bisa sampai bekerja disana dan seputar kehidupan dia. Terima kasih Bady!

Read more

Saat ini Thomas aktif mendesain bersama design agency bernama Hanno dengan klien seperti Stratim, Lenovo dan Omron, Uber. Selain itu, ia juga aktif menulis dan membagikan cerita, informasi seputar desain produk digital.

Terima kasih Steve untuk waktumu! Kami bersemangat untuk membagikan kisah kamu sebagai UX Manager di Blibli kepada para pembaca.

Tolong ceritakan sedikit mengenai peranmu saat ini di Blibli.

Saat ini saya memimpin sebuah tim desainer. Kami mengerjakan produk untuk customer-facing, aplikasi untuk para penjual dan projek internal. Ada lebih dari 12 anggota tim yang mengerjakan UX, UI, riset serta seorang penulis. Beberapa dari mereka ditunjuk sebagai PIC pada area spesifik, seperti customer facing atau aplikasi penjual, sedangkan yang lainnya berperan sebagai supporting UX. UX di Blibli adalah bagian dari grup Product Management. Jadi, kami bermitra dengan mereka untuk mendukung projek-projek yang memerlukan strategi desain.

Pada umumnya, sebagai manager saya membantu di bidang strategi desain, alokasi sumber daya, berbicara dengan kandidat yang berpotensi serta melakukan coaching untuk tim. Ketika saya pertama kali bergabung, KPI setiap individu terkait pemahaman terhadap ekspektasi performa mereka cukup ambigu. Secara perlahan namun pasti, saya berhasil membantu mendefinisikan KPI dengan lebih jelas dan menciptakan awareness yang lebih baik di dalam tim.

Bagaimana perjalanan karirmu sampai pada peranmu saat ini sebagai UX Manager di Blibli?

Bisa dikatakan perjalanan yang saya tempuh sampai di titik saat ini sangatlah tidak linear. Ijinkan saya berbagai cerita ini. Desain bukanlah media yang saya pilih pada awalnya. Saya memulai karir kreatif sebagai fotografer di tahun 2004, ketika saya masih tinggal di Denver, Colorado. Saya mencintai pekerjaan saya dan sangat menikmatinya. Mayoritas pekerjaan yang saya lakukan ada di area pre-weddings dan weddings, yang sebenarnya sangat menyenangkan dan bisa sangat menguntungkan, namun bukanlah area yang ingin saya tekuni untuk jangka panjang.

Saya ingin mengejar pekerjaan yang lebih bersifat konsep periklanan (conceptual advertising) karena terinspirasi gaya Dave Hill (coba lihat hasil karyanya di awal) atau Patrick Hoelck. Dua tempat yang otomatis muncul di pikiran saya adalah pindah ke NYC atau LA. Setelah melakukan riset di lapangan selama 2 tahun, menimbang setiap pro dan kontra, di awal musim panas 2009 saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Los Angeles untuk mulai masuk ke dunia periklanan dan mencari agen yang dapat merepresentasikan karya saya. Hal itu ternyata lebih sulit dari yang saya perkirakan. Saya merasa seperti ikan kecil di kolam yang sangat besar. Tidak seperti kebanyakan orang yang meyakini konsep “Go Big or Go Home”, saya adalah seorang realis. Saya punya rencana cadangan dan saya membuat keputusan untuk memperluas wawasan dengan belajar digital design selama dua tahun di Art Institutes of Hollywood.

Keputusan itu terasa seperti mencoba peruntungan saja pada waktu itu, tetapi hari ini saya dapat mengatakan bahwa itu adalah keputusan yang tepat. Pelan namun pasti, karir saya di bidang fotografi memudar ketika saya memfokuskan setiap usaha untuk terjun ke dunia desain. Perlu saya tambahkan juga di sini bahwa ketika saya bekerja sebagai fotografer, saya menyadari satu hal. Bagian favorit dalam proses fotografi bagi saya adalah saat editing dan digital enhancement. Hal ini jugalah yang membuat saya berpikir bahwa online digital craft (kerajinan digital online) akan sangat menyenangkan. Selama saya berada di Art Institutes, saya juga bekerja paruh waktu sebagai desainer web dan grafis di sana. Saya juga mempunyai kerja sampingan sebagai desainer lepas, membuat situs web untuk seniman dan bisnis-bisnis kecil. Pekerjaan lepas (freelance) berlanjut setelah saya lulus, namun kebanyakan hanya berdasarkan kontrak untuk membantu startup dan agency.

Batu loncatan karir saya dalam dunia desain adalah ketika saya magang di studio Warner Brothers (WB) dan saya cukup beruntung dapat bekerja di dua divisi berbeda - 3 bulan di Consumer Products dan 3 bulan di Interactive Marketing. Saya tidak belajar UX di sana, karena untuk kebanyakan pekerjaan terkait UX di-outsource ke agensi digital lain. Peran saya adalah mengikuti produser-produser dan membantu apapun yang dibutuhkan saat itu, seperti membuat pola desain, menggambar ilustrasi, ikon, HTML/CSS edit, CMS edit, QAing games, dan lain-lain. Satu hal yang saya pelajari bekerja di sana adalah kolaborasi luar biasa yang terjadi antar divisi, perhatian yang besar terhadap detil dalam proses eksekusi serta bekerja dengan para pemimpin yang memiliki atribut yang ingin saya teladani nantinya.

Pengalaman saya di WB juga memberikan petunjuk di mana saya bisa mencari perusahaan tempat saya ingin bekerja dan bertumbuh. Setelah WB, saya melewati perjalanan yang membentuk keahlian saya sebagai UX profesional. Saya mulai sebagai desainer produksi/UI di sebuah social gaming startup, RocketFrog Inc, mulai dari peluncuran produk pertama mereka sampai perlahan-lahan pendanaan yang mereka miliki habis dan setiap pekerja diberhentikan. Saya mendapat pengalaman yang luar biasa dalam bekerja di bawah tekanan, dan do’s serta don’ts dari bidang tersebut. Tidak lama setelahnya, saya direkrut sebagai desainer Web / UI di sebuah perusahaan voucher online, promocodes.com. Peran saya adalah mengubah dan terus mengembangkan portfolio website yang sudah ada. Di sanalah saya pertama kali bekerja dengan data kuantitatif. Saat itu, kami menggunakan data kuantitatif untuk mengidentifikasi kategori yang populer dan kurang populer berdasarkan jumlah click. Pemahaman yang kami dapat dari data tersebut digunakan untuk mengurangi kategori-kategori yang kurang populer.

Perjalanan karir saya berlanjut ketika saya mengambil pekerjaan di perusahaan online dating, eHarmony, sebagai desainer UX senior. Peran saya di sana juga mengembangkan fitur-fitur baru, maupun yang sudah ada, mengiterasi halaman untuk berlangganan (subscription). Di eHarmony lah saya terekspos dengan luasnya proses UX dan budaya user-testing yang saya bawa untuk melakukan pendekatan UX sampai hari ini.

Setelah 6 bulan bekerja di eHarmony, saya mengambil langkah drastis. Setelah hampir 20 tahun tinggal di U.S., saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan akhirnya bekerja di Blibli.com (cerita ini pun sangatlah panjang). Saya masuk ketika tim UX baru terbentuk sekitar 1 tahun dan membutuhkan banyak pengembangan dari segi proses kerja serta penggunaan alat produksi dan review yang lebih baik. Awalnya, itulah yang saya kerjakan - meningkatkan proses kerja dan mengajukan penggunaan alat yang lebih baik seperti Sketch dan Zeplin untuk membuat pengerjaan desain lebih efektif. Projek besar pertama adalah menciptakan perpustakaan pola UI versi pertama dan memperjuangkan projek BliBli Travel. Setelah kurang lebih 6 bulan, Vina Zerlina (Kepala Sales Stock saat ini) meninggalkan tim dan saya pun diusung menjadi pemimpin tim. Melihat ke belakang, setiap tahapan karir yang saya lalui secara tidak langsung mempersiapkan saya untuk menjadi pemimpin, dalam konteks pemimpin desain. Bagi saya, memimpin dalam konteks desain berarti dapat berkolaborasi baik dengan divisi lainnya, mendukung design practice dan belajar berkata “tidak”.

Sebagai manager, apa saja tantangan yang pernah kamu hadapi?

Memiliki visi yang lebih besar dari sekedar melakukan pekerjaan sehari-hari, khususnya ketika tim tersebut semakin besar. Mendesain sebuah tim di mana setiap orang dilibatkan dan diberdayakan membutuhkan sebuah pemahaman tentang kemandirian tim itu dan mencari cara terbaik untuk membangunnya. Setiap pemimpin berbeda, tetapi saya percaya setiap pekerjaan yang baik keluar dari orang-orang yang bahagia atau setidaknya sangat termotivasi untuk bekerja dengan supervisi minimal. Membudayakan dan mengajarkan praktek UX antar divisi juga bisa menjadi tantangan tersendiri. Saya pernah ada di titik yang sangat buruk di mana UX diasosiasikan dengan feedback negatif. Saat ini kondisinya sudah lebih baik, kami mencoba untuk berbagi lebih dan lebih banyak lagi pemahaman berdasarkan riset yang ada.

Steve Sutanto UX manager Blibli

Menurut pendapatmu, apa yang membuat seorang desainer hebat? Menurut pendapat saya, desainer yang hebat sangat menguasai bidang yang mereka kerjakan serta keahlian dalam komunikasi. Mereka menguasai bidang tersebut dengan cara memanfaatkan setiap sumber daya yang ada dan selalu berusaha mengembangkan proses design; ia memperhatikan setiap detil desain yang mungkin tidak disadari orang lain, seperti menemukan pendekatan baru dalam menyelesaikan kasus tertentu atau menerapkan interaksi mikro (micro interaction) untuk menyenangkan user dalam konteks yang tepat. Kemampuan berkomunikasi yang baik perlu dilatih dengan orang lain, baik orang-orang di divisi yang sama ataupun divisi berbeda. Kamu memahami nilai dari membangun sebuah hubungan dalam mencapai tujuan yang sama. Ini berarti mengenal developer atau departemen lain di tempatmu bekerja, seperti marketing, brand, bisnis, dan berkolaborasi menemukan cara terbaik untuk memastikan tujuan UX tercapai. Selain itu, ketika menerima kritik terkait pekerjaanmu, itu berarti kamu bisa menetapkan dan mengartikulasikan di mana posisimu, terlepas dari hasil argumen. Buat saya, inilah yang membedakan desainer rata-rata dengan desainer hebat.

Bagaimana kamu tahu bahwa sebuah desain sudah tepat dan siap untuk dikirim?

Ada dua cara melihat hal ini. Jika persyaratan yang diberikan sudah final, yang berarti PRD (Product Requirements Document) sudah mencakup semua use-cases, maka desain yang dibuat perlu mencapai persyaratan minimum. Namun jika kita berbicara tentang kondisi ideal, kita perlu memastikan desain kita lebih dari persyaratan yang diminta dan membuat produk akhir sangat menyenangkan untuk digunakan. Salah satu contoh adalah fitur GoSend di Blibli Apps. Persyaratan inti adalah untuk menyoroti GoSend sebagai penyedia jasa pengiriman terbaru dengan fungsi utama memfilter HANYA produk-produk yang memiliki pilihan GoSend untuk jasa pengiriman. Solusi kreatif yang ditawarkan adalah membuat filter GoSend terlihat melalui halaman list produk. Ini mempersingkat tahapan yang perlu dilakukan pengguna untuk tercapainya fungsi utama yang diinginkan.

Bagaimana kamu mengatur feedback desain dalam tim agar efektif dan konstruktif?

Saya pernah mengadakan pertemuan mingguan untuk tim UX di mana kami saling mengkritik pekerjaan setiap anggota satu per satu. Peraturan yang saya tetapkan adalah TIDAK PERNAH mengatakan, “Saya tidak menyukainya” atau “UX-nya buruk”, tanpa memberikan argumen logis di balik pendapat tersebut. Sebagai desainer seharusnya kita punya pemahaman lebih baik! Juga sebelum sharing, setiap desainer tahu mereka perlu membagikan konteks dari pengguna dan permasalahan yang mereka coba selesaikan dengan sangat jelas.

Pengalaman tersebut sangatlah positif; tim secara keseluruhan dapat melatih berpikir kritis, yang akhirnya mendorong setiap desainer untuk berpikir lebih kritis dan logis terhadap desain mereka sendiri. Pekerjaan pun menjadi efektif dan hidup, sehingga kami terkadang bisa melakukan meeting sampai lebih dari 2 jam. Jika ada lebih dari 5 orang yang akan sharing dan kami hanya punya waktu untuk meeting selama 2 jam, maka saya menyarankan membatasi waktu sharing selama 10-15 menit/individu. Proses ini sangat membantu karena setiap anggota tim akan menerima feedback. Cara lain yang pernah saya lakukan di tempat kerja yang berbeda adalah meminta PIC projek menuliskan feedback dan menyimpannya. Dengan demikian, desainer yang terkait dapat dengan mudah men-track pekerjaan mereka selama minggu itu. Seiring perkembangan tim, kami mulai jarang melakukan feedback secara kolektif. Hal ini seringkali diakibatkan desain sudah didiskusikan dalam perencanaan cepat atau product manager sudah memfinalisasi use-cases yang disetujui, sehingga feedback tim menjadi agak sulit untuk diterapkan. Dalam kondisi seperti ini, akhirnya saya atau desainer lead yang lain yang lebih banyak berkeliling memberikan feedback secara personal atau terkadang, kami akan mengumpulkan semua orang untuk sesi feedback mendadak jika ada di antara kami yang menemui jalan buntu. Setiap perusahaan berbeda dan kita perlu mencoba menyesuaikan dinamika dan kebutuhan tim. Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan di mana kami akan bertemu tiga kali seminggu untuk mendiskusikan feedback desain, tetapi tim tersebut terbilang kecil dan itulah mengapa cara ini bisa berhasil. Proses inilah yang saya lalui bersama tim UX; kami beradaptasi terhadap ukuran, kebutuhan, dan fokus dari produk, tim, dan perusahaan. Menjadi lead UX, seseorang harus berani beradaptasi dan bertumbuh; jangan hanya terpaku pada satu metodologi saja. Efisiensi dan team building adalah bagian penting dalam memimpin tim UX.

Hal apa yang menurutmu paling bermakna ketika bekerja sebagai seorang desainer UX?

Berkolaborasi, baik dengan Product Manager, UX, Developer, ataupun tim Marketing. Saya rasa terciptanya kerja sama antar divisi yang berbeda dalam memecahkan sebuah masalah sangatlah memotivasi dan empowering. Juga ketika desainmu berkontribusi dalam mencapai target bersama, seperti peningkatan penjualan/GMV, berkurangnya kebingungan pengguna, dan sebagainya. Hal yang lebih luar biasa lagi bagi saya adalah bagaimana desainer UX hari ini dapat bekerja melampaui mobile atau desktop. Dengan meluasnya machine learning / Artificial Intelligence (AI), desainer UX juga bisa menyentuh area pengalaman berbincang, seperti Alexa, Google Voice, Siri, atau Chatbot. 5 tahun dari sekarang, pasti akan ada lebih banyak pengalaman dan perkembangan baru yang akan muncul.

Apakah 3 aplikasi favoritmu (sesuatu yang tidak terlalu umum seperti Facebook, Instagram dan Spotify). Mengapa?

Saat ini saya rasa:

Robinhood

Saya menggunakannya setiap hari untuk memonitor berita terbaru tentang investasi dan belajar mengenai saham yang berpotensi untuk di-invest. Dua fitur yang paling menarik saya adalah tidak adanya biaya dan Robinhood Gold, di mana mereka akan meminjamkan uang agar kamu terus berinvestasi dan menyimpan keuntungan yang dihasilkan. Dari segi interaksi dengan aplikasi tersebut, saya rasa mereka melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam onboarding pengguna baru dengan menyediakan informasi yang mudah dipahami. Kamu juga bisa mempelajari sejarah saham dengan gestur swiping yang menunjukkan fluktuasi harga dari saham tersebut. Kamu bisa memilih tampilan saham antara “harga/saham” atau “persentase/saham”. Sebagai tambahan, Robinhood juga memberikan pemberitahuan harian yang membantu pengguna mendapat insights terkait industri saham, saham-saham yang sebaiknya dipilih atau perlu dihindari, serta trend ke depannya.

Alexa via Echo Dot

Baru-baru ini saya membeli Echo Dot via Amazon.com dalam perjalanan ke San Fransisco. Awalnya saya membeli alat tersebut untuk men-sinkron-kannya dengan Fire TV Stick sebagai komando suara (voice command) utama. Pengaturan ini cukup menyenangkan dalam hal mengkomando Alexa untuk membuka aplikasi tertentu atau memainkan musik, tetapi frekuensi penggunaannya sangatlah minim. Jadi, saya pindahkan alat tersebut ke dapur, di mana saya dan keluarga makan bersama. Ternyata, inilah tempat terbaik untuk berinteraksi dengan Alexa dan kami sangat sering menggunakannya. Kami memintanya untuk membuat suara-suara lucu, seperti suara binatang atau kentut (yang sangat disukai oleh kedua anak laki-laki saya), kuis trivia, menanyakan fakta tertentu, atau memainkan musik selama kami makan. Jika Alexa tidak dapat merespon komando tertentu, misalnya memainkan suara-suara menenangkan untuk tidur, kamu bisa menggunakan plugin di bawah fitur “Skills” dan jika kamu menemukan plugin yang tepat, cukup tekan enable dan ‘skill’ tersebut akan ada di Echo-dotmu.

Wallet ( iOS native App)

Saya menyukai aplikasi ini hanya karena ia bisa menyimpan apapun secara digital, mulai dari credit card, boarding pass, hotel booking sampai tiket konser. Jika saya masih tinggal di US, aplikasi ini bisa menggantikan dompet sesungguhnya. Tiga use-case favorit saya: checkout cepat dengan Apple Pay, memindai boarding pass dengan cepat di bandara, serta shortcut untuk menunjukkan konfirmasi pemesanan hotel.

Apa yang kamu lakukan ketika kamu tidak sedang bekerja atau mendesain sesuatu?

Saya selalu menghabiskan waktu dengan keluarga (istri dan dua anak laki-laki saya) ketika saya tidak sedang bekerja. Weekend adalah sesuatu yang sakral bagi saya, karena inilah waktu berkualitas yang saya miliki dengan keluarga; berenang di pagi hari, pergi nonton, makan atau sekedar diam di rumah dengan mereka. Jika saya butuh recharge energi, saya mencoba pergi sejenak ke luar kota untuk menginap di hotel yang bagus ataupun pergi ke luar negri.

Saya suka mendengarkan podcast dalam perjalanan pulang. Akhir-akhir ini saya sedang mendengarkan “Master of Scale by Reid Hoffman” di mana ia mewawancarai sejumlah tech founders atau entrepreneurs, seperti Mark Zuckerberg, pendiri Netflix, ataupun pendiri AirBnB. Cara Reid mengartikulasikan pertanyaannya sangatlah cerdas dan mendalam. Kamu bisa mendapat banyak wawasan dari pembicaraan mereka. Saya juga sedang membaca sebuah buku leadership “Product Leadership: How Top Managers Launch Awesome Products and Build Successful Teams” oleh Richard Banfield, Martin Errikson and Nate Walkingshoe. Buku ini banyak berbicara tentang menjadi product leader dalam sebuah organisasi dan berbagai contoh kasus yang dialami oleh banyak pemimpin mulai dari memiliki visi untuk sebuah produk, menstrukturisasi sebuah proses dan kolaborasi, serta strategi antar-divisi.

Saran terbaik apa yang bisa kamu berikan bagi para desainer muda di UI/UX/Desain Produk?

Rasa cepat puas adalah musuh pertumbuhan. Kuasai betul apa yang kamu kerjakan tetapi juga dorong dirimu melampaui batasan-batasan pekerjaanmu. Be an inform designer but just as important is to use common sense in everything that you work on. Sumber-sumber online sangatlah mudah didapat saat ini, jadi jangan berhenti belajar. Temukan mentor karir yang dapat menolongmu mencapai suatu tujuan. Coba untuk dapatkan feedback jujur secara reguler tentang pekerjaanmu dan terus kembangkan skill EQ-mu. Terakhir, teruslah berusaha mengembangkan keahlianmu berkomunikasi.

Gambar: Echo Dot via Unsplash

Dalam interview kali ini kita akan ngobrol bareng Sonny seorang UX Engineer di Grab. Kita akan ngobrol tentang role UX Engineer dan segala hal tentang bagaimana membuat sebuah produk. Yuk langsung disimak 😀

Read more

Disky adalah seorang Senior Product Designer di Bukalapak. Ia telah merancang banyak fitur yang tentunya menjadi solusi bagi masalah-masalah yang dialami oleh user. Yuk simak perbincangan dengan Disky mengenai perjalanannya menjadi seorang UI/UX Designer.

Read more

Arie adalah seorang UI Lead di salah satu startup di Indonesia, Traveloka dan juga seorang designer yang hobi bikin plugin sketch. Yuk… simak perbincangan dengan Arie bagaimana ia berproses hingga menjadi seperti sekarang ini.

Read more

Ia telah mengerjakan beberapa produk dan diantaranya adalah aplikasi haji dan umrah, Labbaik. Aplikasi ini telah digunakan oleh banyak orang dalam melakukan ibadah haji dan umroh. Yuk… simak perbincangan dengan Dadi tentang cerita bagaimana ia menjadi UI/UX Designer.

Read more

Arianti Silvia adalah seorang digital product designer yang telah berkecimpung di dunia digital product selama kurang lebih 6 tahun. Saat ini ia juga aktif menjadi mentor di gerakan 1000 startup. Yuk…. simak perbincangan dengan Silvia tentang perjalanannya menjadi seorang Digital Product Designer.

Read more

Kita semua tahu, Yogyakarta merupakan kota yang dipenuhi dengan talent-talent di bidang seni maupun teknologi. Ada cukup banyak UI/UX Design Studio berdiri di Yogyakarta. Salah satunya adalah Omnicreativora yang berhasil saya ajak untuk berbagi ceritanya. Saya sendiri terkesan dengan sosok humble-nya Mas Anggit (pendiri dari studio Omnicreativora) dan penuh humor sewaktu saya mewawancarai beliau.

Read more

Riska adalah UI Designer di salah satu startup di Indonesia, Traveloka. Ia mendesain produk produk Traveloka baik itu website maupun app dan merancang sedemikian rupa sehingga orang orang dapat menggunakan produk tersebut dengan mudah.

Read more

Seorang designer asal Surabaya ini jelas memiliki kemampuan design yang sudah tidak ragukan lagi, terutama bagi para penggiat Dribbble pasti sudah tidak asing dengan karya-karya dari Budi Tanrim.

Read more

Pada kesempatan ketiga dalam “Inside Designer”, tim Insight berhasil menemui secara langsung dan mengobrol dengan Richard Fang, seorang enterpreneur dan juga designer yang akhir-akhir ini kita sering jumpai dalam acara meet-up designer di Jakarta.

Read more

Steve Lianardo Product Designer & Illustrator di Bukalapak. Ia memulai karirnya setelah lulus dari jurusan DKV di Binus pada tahun 2009, sebagai Freelancer. Yuk...simak obrolan tentang perjalanan karir seorang Steve Lianardo.

Read more

Thomas Budiman adalah seorang Digital Product Designer yang tinggal di Jakarta. Ia saat ini bekerja secara remote pada Hanno - A Digital Product Design Team. Designer yang mengidolakan Steve Jobs ini, akan membagikan alasan mengapa design thinking itu penting dimiliki seseorang termasuk seorang designer. Yuk…. simak perbincangan santai dengan Thomas Budiman.

Read more