Disky adalah seorang Senior Product Designer di Bukalapak. Ia telah merancang banyak fitur yang tentunya menjadi solusi bagi masalah-masalah yang dialami oleh user. Yuk simak perbincangan dengan Disky mengenai perjalanannya menjadi seorang UI/UX Designer.

Halo Disky, lagi sibuk apa neh?

Lagi sibuk mendesain interface buat kantor wan, sama lagi coba untuk olahraga lagi nih biar cepet kurus, haha 😂

Ceritain dong awal mula masuk ke dunia UI/UX ini.

Setelah lulus kuliah gue bekerja menjadi customer service di perusahaan internet provider. Setelah 6 bulan bekerja menjadi customer service, gue mendapatkan kesempatan untuk belajar objective-c di kantor untuk menjadi seorang iOS Developer.

Dulu, sumber referensi tentang bahasa pemrograman objective-c sangat sedikit, saat itu gue hanya bermodalkan buku objective-c for dummies , ipad , dan tutorial di youtube (dimana tahun itu info tutorial-nya masih sangat sedikit).

Akhirnya setelah berpikir sekian lama gue memutuskan untuk berhenti ngoding karena gue tipikal orang yang sering kebawa pikiran, kalo ada kodingan yang enggak jalan, gue bisa mikirin itu seharian, terus coba-coba sampe akhirnya kodingannya itu jalan / berhasil, hingga lupa makan dan lupa waktu.

Pernah suatu hari kebangun jam 2 pagi karena inget cara solving problem kodingan yang error, akhirnya bablas ngoding sampe pagi, Gue ngeliatnya sih jadi enggak sehat dan stress sendiri saat itu.

Dan semua perjalanan pasti ada hikmahnya, Walaupun gue berhenti menjadi developer tapi dari pengalaman itulah gue mengenal dunia UI/UX.

 

Dari Full-Stack Developer lalu beralih menjadi UI/UX Designer. Apa yang membuat lo memutuskan hal tersebut?

Gue ingat betul suatu malam gue bertanya kepada diri sendiri. “Gue ingin fokus di bidang apa, gue ingin fokus menjadi apa”. Lalu gue berdiskusi panjang dengan istri, hingga akhirnya dia meyakinkan gue untuk fokus di UI/UX.

Salah satu alasan gue adalah ingin fokus dalam mendesain User Interface yang benar-benar nyaman untuk digunakan oleh user.

 

Setelah itu apa langkah pertama yang lo ambil dan bisa diceritakan prosesnya sampai menjadi seperti sekarang ini?

Langkah pertama yang gue ambil adalah mengikuti kontes di 99designs.com. Awal awal terasa berat karena gue jarang menang, tapi setelah gue mendapatkan kemenangan pertama, gue merasa yakin bahwa ini adalah jalan yang tepat.

Apalagi setelah itu mendapatkan project jangka panjang untuk suatu Startup di New York. Dan juga beberapa project untuk membuat web atau sekedar landing page.

Gue juga pernah mencoba untuk melamar di Booking.com, menjadi mobile designer. Dari 4 tahap gue sampai di tahap ke-3 (intinya sih gak keterima, haha..).

Lalu, gue bekerja di salah satu startup di Jakarta. Di sini gue belajar banyak hal. Tentang bagaimana mendesain sebuah design UI yang tepat, apa itu UX, gue juga tahu dribbble waktu kerja disini.

Dan juga disini gue belajar bagaimana bekerja sama dengan semua anggota team untuk membuat satu fitur dan bagaimana fitur tersebut menjadi jawaban dari masalah yang dialami oleh pengguna.

Sumber: https://dribbble.com/diskydisko

 

Gue bersyukur banget karena mengenal “empathy” lebih awal saat masih menjadi seorang Customer Service. Ternyata hal tersebut sangat membantu dalam solving problem dan bagaimana memberikan good experience kepada users.

Dengan berbekal ilmu yang sudah pernah gue dapat, Gue memutuskan bergabung dengan Bukalapak untuk berbagi pengalaman disana.

Apa tantangan terbesar menjadi seorang UI/UX Designer?

Tantangan terbesar menurut gue itu adalah bagaimana mendesain sesuatu yang intuitif, sehingga user bisa pakai produk yang kita desain tanpa kesulitan.

Dan juga bagaimana kita menjaga komunikasi antar squad / group, kalau komunikasi dua arah sudah berjalan dengan bagus gue rasa sebesar apapun masalahnya, kita pasti bisa solve itu sama-sama,

 

Bisa diceritakan proses belajarnya?

Gue belajar dari buku-buku product design di Amazon, banyak referensi yang bagus seperti Value Proposition Design, lalu The Laws of Simplicity nya John Maeda juga bagus, Invest ke buku baik buat asupan otak lho, trust me.. it is worth it 😀

Lalu juga rutin membuat explorasi desain interface, icon dan sekarang ini lagi belajar motion (abis kalo ngga diasah bisa-bisa kreatifitasnya menurun), baca-baca artikel di medium juga kalau sedang senggang.

 

Thanks banget sudah berbagi kisahnya, Saran dong untuk teman teman yang akan berkecimpung di dunia UI/UX ini.

Sebagai seorang pekerja kita selalu mencoba menata karir, dari bawah menuju atas, sama seperti isi bensin “selalu dimulai dari nol” lalu diisi sampai batas yang kita tentukan, artinya seberapa jauh limit karir yang mau kita capai, kita yang menentukan mau berjalan sampai mana.

Niat tiap orang bekerja mungkin beda-beda, niat gue bekerja hanya bermodal ikhtiar, jika kita memang berusaha untuk mencapai sesuatu yang terbaik, maka hasilnya juga pasti akan baik (apapun yang kalian kerjakan as long itu halal).

Saran gue banyak-banyaklah membaca dari sekarang, jangan males cari sumber / source yang jelas, dulu mungkin orang tua kita suka bilang, membaca = jendela dunia, believe it or not, it’s true. dengan membaca kita memberi asupan otak kita benih-benih informasi yang suatu saat membantu kita disaat yang gak terduga.

Biasakanlah menjadi pendengar yang baik, it will bring your empathy to the next level.

Explorasilah sebanyak-banyaknya, dari mulai mendesain interface, icon, illustrasi, animasi, sampai solving problem sebuah case study.

Being a designer is about how you solve the problem, it will takes time and process but remember, it need to be solve.

Sumber: https://www.instagram.com/diskydisko/

 

Terima Kasih Disky sudah berbagi ceritanya 😀

Dribbble: https://dribbble.com/diskydisko
Instagram: https://www.instagram.com/diskydisko/
Medium: https://medium.com/@diskychairiandy