Pada kesempatan ketiga dalam “Inside Designer”, tim Insight berhasil menemui secara langsung dan mengobrol dengan Richard Fang, seorang enterpreneur dan juga designer yang akhir-akhir ini kita sering jumpai dalam acara meet-up designer di Jakarta.

Saat ini Richard sedang sibuk dengan bisnis digital product agency-nya yang bernama, Weekend Inc. Selain itu, Richard juga terlihat aktif menjadi mentor-mentor pada beberapa startup di Jakarta.

Penasaran dan ingin belajar dari Richard sebagai seorang designer dan enterpreneur kan? Yuk, mari kita simak wawancaranya!

Mengapa menggunakan Weekend sebagai nama?

Richard: Sewaktu membuat “Weekend”, saya memang ingin menggunakan kata-kata di luar dari istilah design. Sesuatu yang lebih membumi dan biasa diucapkan oleh orang kebanyakan.

Alasan lainnya menggunakan nama “Weekend” karena saat pertama-tama saya banyak menghabiskan waktu di akhir minggu untuk mengerjakannya.

Selain itu, umumnya teknologi bersifat kaku, terkadang penuh tekanan. Dengan nama Weekend, kami berharap bisa memberikan kesan yang menyenangkan. Jadi lebih nyeleneh dan tidak serius, walaupun pekerjaan kami adalah hal yang serius. Tapi lucunya kadang jadi bahan bercandaan klien. “Gimana, Weekend bisa beres kan semua?” atau “Oh kalian kerjanya pas Weekend doang ya?” Hahaha… Setidaknya hal ini bisa menjadi penghangat suasana saat kami bertemu dengan klien.

Tantangan terbesar apa yang Richard rasakan saat menjalani Weekend Inc?

Richard: Buat saya saat ini tantangannya lebih ke arah people management. Untuk hal desain secara teknikal, saya lebih percayakan kepada tim. Saat ini saya lebih struggling bagaimana membentuk timnya itu sendiri, bagaimana culture-nya, bagaimana kebijakannya dan strukturnya. Terlebih kondisi kami sekarang sudah berjumlah 60 orang, people management menjadi hal yang serius untuk saya tangani.

Apakah Richard masih suka men-desain? Atau sekarang lebih sibuk ke manajemen saja?

Richard: Sekarang lebih sibuk ke manajemen saja. Hampir tidak pernah mendesain lagi. Terakhir itu sekitar 1 tahun lalu. Saya sempat belajar Sketch. Hanya untuk sekedar tahu bagaimana cara kerjanya, sehingga kedepannya saya bisa merekomendasikan kepada designer di dalam Weekend.

Tidak kangen Chad?

Richard: Kangen pastinya ada. Hanya belakangan saya lebih terjun sebagai mentor saja. Saat ini perkembangan kemampuan dan hasil kerja mereka menjadi fokus utama saya. Karena jika hasilnya tidak baik, ujungnya saya juga yang akan kena.

Wah, di dalam weekend, mereka yang bekerja, dibantu untuk mengembangkan kemampuan mereka juga yah?

Richard: Yes. Saya dan partner saya, Andoko (CTO Weekend Inc.), cukup concern dengan hal ini. Pernah ada satu cerita, kami memiliki seorang front-end developer baru. Saat masuk, kami melihat kemampuannya kurang sekali, tapi kami melihat dia punya keinginan besar untuk belajar. Jadi kami sepakat memberikan kepercayaan selama 3 bulan (probation).

Di akhir probation, Saya melihat hasil pekerjaannya tidak rapih dan oke. Setelah berdiskusi saya dan Andoko akhirnya memutuskan untuk memberikan kesempatan lagi 3 bulan. Alhasil, pada bulan ke-5, kami mulai melihat perubahan dalam hasil pekerjaannya. Baru-baru ini juga kami mengangkatnya menjadi pegawai tetap. Saya senang sih bisa melihat hal seperti ini terjadi di dalam Weekend. Dari awalnya yang kurang mampu sampai akhirnya menjadi bisa.

Tentunya hal ini bukan dibantu oleh saya dan Andoko saja, tapi ada designer dan developer lainnya yang saling membantu.

Suasana ruang kerja di Weekend

Apakah pernah merasakan burn out dari pekerjaan atau bisnis yang Richard jalani saat ini? Bagaimana mengatasinya?

Richard: Burn out itu pasti. Lebih ke stres sih buat saya. Biasanya dalam mengelola sebuah proyek pasti ada bagian stresnya. Saat ini masih ada beberapa klien yang masih melewati saya. Kalau dari segi manajemen perusahaan, pada tahun ketiganya Weekend, saya sering mengalami stres dalam mengelola arus keuangan. Terkadang di saat stres, saya bisa terbangun dari tidur jam 4 subuh dan tiba-tiba merasa deg-degan sendiri.

Untuk mengatasinya, saat ini saya lebih sering menyempatkan diri untuk berdoa dan membaca renungan. Kadang main game — Atau ngobrol dengan Andoko atau istri saya. Memang saya tidak akan menemukan solusinya saat itu juga dengan mengobrol. Tapi setidaknya saya bisa merasa lebih baik dengan mengeluarkannya hal-hal yang membuat saya stres.

Dalam kurun waktu 5 th dari sekarang, Richard membayangkan Weekend Inc akan menjadi seperti apa?

Richard: Wah kejauhan sekali ya. Jaman sekarang kan apapun berubah dan berkembang begitu cepat hahaha...

Pada dasarnya Weekend adalah sebuah platform, hanya bentuknya saja sebuah agency/service. Dari agency sendiri, kami ingin menjadi lebih matang dari segi service dan teknologi yang kami tawarkan.

Ke depannya kami ingin bisa memiliki produk sendiri dan membuat platform edukasi untuk desain. Melihat lebih jauh lagi, kami ingin bisa bermain di area investment. Sehingga ini semua menjadi satu ekosistem dengan empat pilar yaitu: agency, produk, edukasi dan investment.

Richard bersama dengan timnya

Kalau design itu tidah pernah eksis di dunia ini, Richard membayangkan akan menjadi seseorang seperti apa? Mengapa?

Richard: Bingung haha. Apa yah? Karena semuanya didesain lho. Kayanya ga mungkin deh… Berarti kita menghapus sejarah orang-orang menulis dan mengambar di dinding yah? Hahaha…

Siapakah yang memberi pengaruh terbesar sampai richard bisa jadi seperti sekarang ini?

Richard: Tempat kerja pertama saya, Thinking Room. Co-foundernya adalah Erik Wijaya dan Nico Wijaya. Erik sebagai creative director dan Nico sebagai businessman. Waktu saya masuk thinking room, saya adalah pegawai pertama mereka. Wah.. saya belajar banyak hal dari mereka. Weekend sekarang ini pun sedikit banyak terinspirasi dengan Thinking Room.

Saya belajar design dan juga bisnis dari kedua bersaudara ini. Pernah waktu itu Nico membantu saya saat membuka bisnis clothing line. Buat saya ini lucu, karena bos kita sendiri yang memberikan modal untuk kita menjalankan bisnis. Biasanya bos akan kurang senang ketika kita, pegawainya, malah ingin membuka bisnis. Tapi saat itu saya malah di-support dan diajarin.

Ada tips untuk teman-teman designer yang saat ini sedang mencoba untuk menjadi seorang founder?

Richard: Yang pasti harus be open-minded. Jangan hanya memikirkan dari segi desain saja. Ada beberapa designer yang saya temui ketika mereka ingin menjadi seorang founder, menjalankan bisnis tapi mindsetnya masih seperti seorang designer. Pastikan kalau kalian ingin ke arah sana. Mulai aware dengan hal-hal lain seperti: sales, marketing, business model dan finance. Tidak melulu perkara warna, tipografi atau kemudahan interaksi saja. Mungkin kita tidak akan seahli orang-orang yang berlatar-belakang bisnis, tapi setidaknya saat kita masuk ke dunia enterpreneur kita punya bekal.