Kesuksesan Amazon adalah contoh nyata dari prinsip yang terkadang sulit diterima komunitas desain: desain yang berhasil belum tentu ‘cantik’.

Tidak diragukan lagi, Amazon adalah sebuah kekuatan signifikan dalam transformasi di dunia e-commerce: sekitar 44% dari semua penjualan online terjadi di Amazon, dan satu dari tiga orang dewasa di U.S. adalah anggota Amazon Prime. Perusahaan ini mendapat pemasukkan sebesar $5.6 milyar tahun lalu (yang menimbulkan kontroversi karena tidak ada pelaporan pajak ke pemerintah) , dan 95% dari pelanggan Amazon Prime mengatakan mereka “pasti” atau “kemungkinan besar” akan meneruskan keanggotaan mereka. Namun, sedikit sekali orang yang mengatribusikan kesuksesan ini kepada konsep desain yang mereka miliki. Jika kamu membaca prinsip kepemimpinan Amazon yang terkenal, hanya dua prinsip—”Obsesi Pelanggan” dan “Temukan and Sederhanakan”—yang berhubungan dengan bagaimana mereka mengembangkan produk dan layanan berdasarkan pertimbangan dari segi desain; dan kedua prinsip itu bahkan tidak membahas desain secara eksplisit.
Dari segi estetika, toko online Amazon tidaklah sederhana ataupun cantik - dua hal yang selalu kita harapkan dalam desain yang baik. Sebaliknya, Amazon memfokuskan pada penyederhanaan pengalaman (UX), proses, dan keberfungsian. Bagi banyak desainer, kenyataan bahwa pendekatan visual yang dilakukan Amazon berhasil adalah sesuatu yang membingungkan. Jadi, bagaimana seorang desainer dapat memahami mengapa Amazon berhasil, terlepas (jika memang bukan akibat) dari estetikanya?

Desain Amazon berhasil karena ia menggunakan 4 prinsip kunci yang dibutuhkan dalam menciptakan pengalaman berbelanja yang menyenangkan - baik berbelanja online ataupun offline, barang mewah ataupun murah. Intinya, setiap pengalaman berbelanja yang menyenangkan bersifat:


[Screenshot: Amazon]

1. Transparan

Pengalaman berbelanja yang menyenangkan dapat terjadi ketika harga dan proses belanja jelas dan mudah dipahami. Melihat sekilas, pengalaman dengan Amazon tidak terlihat transparan. Perhatikan model harga yang berubah-ubah: mirip dengan lonjakan harga di Uber atau harga tiket pesa